Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.
Belajar memberikan yang terbaik untuk cinta,
meski perih sakit dan menghabiskan sisa asa,
Belajar untuk membuka hati seluas langit
seindah malam dan setulus bintang,
sangat bodoh menjadi orang yang sombong
yang hanya berada dalam pembenaran tanpa logika,
maka aq disini untuk cinta,
mencoba untuk tidak sombong dan tetap miliki cinta

Jika “terbaik” kita nda cukup luar biasa...

01:32:00


 what will you do, if your best isnt good enough?

Aku sering sekali terhenyak waktu tersadar bahwa sebegitu banyaknya apa-apa yang sekuat tenaga kita lakukan ternyata tidak cukup bagus untuk dibilang luar biasa. Kita berjuang mati-matian menggapai sesuatu, ternyata tidak tergapai. Mati-matian juga kita mencegah sesuatu nyatanya tidak tercegah.
our best, sometimes isnt good enough...
Seperti konser musik, mati-matian kita memainkan sebuah simfoni, nyatanya orang tidak bertepuk tangan. Kita sudah tegar memang, meski sedih itu mengalir sendiri bak peluh, tapi kita sudah tegar memang, kita sudah bertahan memang. Dan itu sungguh nda mudah.
**************
Dulu sekali, pernah suatu ketika kita diajarkan dengan tenang, bahwa semakin ikhlas kita punya niat semakin enak kita berbuat, semakin benar kita berencana semakin mungkin kerja kita terlaksana sempurna. Semakin pasrah kita, semakin bisa kita menerima ending episode macam apa juga.

Lalu mulai kapan kita tiba-tiba lupa? 
Seketika ingat maka buru-buru kita harus berdoa, aminkan ini hai teman! 
Tuhan…..bimbing kami pelan-pelan”. 
biar khidmat kita bernyanyi, orang tak tepuk tangan, tak mengapa! 
biar kuat kita mendaki, puncak belum juga sampai, tak apa! 
biar dalam kita menyelam, dasar belum juga nampak, tak apa!

peluh hari-hari kita adalah untuk berbuat yang paling baik yang kita bisa, untuk jadi lebih baik tiap masanya.
meski “terbaik” kita tak cukup luar biasa, tak apa!!!!

Saat aku membaca satu buku, aku merasa aku pintar dan orang lain bodoh.
Saat aku membaca puluhan buku, aku merasa aku pintar dan orang lain pintar.
Setelah kubaca ribuan buku, aku merasa aku bodoh dan orang lain pintar.

Sambil duduk-duduk dalam sebuah senja yang santai, melepas pandang sejauh ufuk-ufuk yang menyemburat jingga, aku berkelana jauh ke saat-saat dimana aku masih sangat sangat “muda”. Awal-awal sma dulu, semangat untuk belajar dan memahami sesuatu bergelora luar biasa. Seperti kebanyakan orang-orang muda itu kawan, kita selalu ingin berontak dan mendobrak. Waktu “muda” dulu kita ingin mengganti pusat tata surya, menggeser poros bumi, kita ingin mencairkan kutub, teriakan lantang kita seperti bisa menyapu bersih gurun sahara. Kita  hijau, muda, bersemangat, lantang… dan tentunya juga “baru membaca satu buku”.

Dulu itu, penilaian kita yang maha hebat telah dengan sangat brilian menyalahkan semua pandangan yang berseberangan dengan kita. Hidup dimata kita adalah perputaran logika kita dan “buku” kita. Seperti kecambah, setelah beroleh kesempatan untuk sejenak mengembangkan kita punya kehidupan, kita mulai melihat dunia semakin berwarna-warna, pelan-pelan betul kita mulai belajar satu hal, lalu belajar lagi lain hal. 

Lama-lama “buku” yang kita baca mulai agak banyak. Hidup disini bagi kita adalah perputaran logika “buku” kita, dan “buku-buku lain” yang teman-teman kita baca. Perlahan dunia sudah mulai tidak terlalu hitam putih. “Kenapa teman kita berbeda warna beda selera” sudah mulai bisa kita cari sela-selanya, tentu saja untuk kemudian kita kritik dengan bahasa yang luar biasa pintar, niat kita dulu itu mulia sekali kan kawan?? “untuk menyadarkan mereka yang belum mengangguk-angguk dengan buku kita”. Kita baca “buku” mereka dengan harap-harap cemas untuk mencari dimana kira-kira letak salahnya?



Padahal hidup kita ini kan sepertinya terlalu sayang jika kita tidak sebisa mungkin memulung kebijakan dari banyak orang. absorb what usefull and reject what is useless. Persis seperti kita pintar benar membedakan mana telur mana kotoran ayam, meski keluar dari tempat yang sama toh kita tidak pernah salah ambil atau kemudian menjadi beringas dan radikal menolak semua telur. 
Dalam dunia yang berwarna ini, hidup kita adalah perputaran logika untuk belajar dari “buku” kita dan “buku” yang orang lain punya.

Sudah membaca ribuan “buku”??? Bukankah tiba2 orang lain “pintar” dan kita ini “bodoh”??

0 comments:

Post a Comment

silahkan meninggalkan jejak anda...

Followers

picture of a dreamer

picture of a dreamer
Freena Pipiholic

Lets Follow by

Follow pipiholic on Twitter